Rabu, 23 Oktober 2019

Takepan Indarun dalam Kebudayaan Suku Sasak

Penulis : Herdi Purwangsa S


Rumah suku sasak

        Indonesia merupakan salah satu negara dikawasan asia tenggara yang sangat kaya akan kebudayaan atau peninggalan-peninggalan bersejarah yang memiliki nilai tinggi di mata masyarakat, salah satunya di wilayah Nusa Tenggara Barat khususnya di Lombok mengenal dan membahas tentang lombok kita tidak akan pernah lupa dengan suku yang terdapat di daerah tersebut yaitu suku sasak, ada banyak sekali hal yang akan anda temui yang berkaitan dengan suku sasak. Sasak merupakan salah satu suku di NTB, Indonesia dari sekian banyak suku yang ada (tepatnya 1340 suku yang ada di Indonesia). Banyaknya suku inilah yang membuat negara Indonesia kaya akan keberagaman suku bangsa, bahasa, serta budayanya.

        Memahami tentang lombok dengan suku sasak di dalamnya, tidak lepas kita perhatikan bahwa di suku sasak sangat kaya akan peninggalan-peninggalannya baik itu berupa tarian, musik, (gendang beleq), peresean, acara penting seperti bau nyale maupun dalam bentuk tulisan yang lebih dikenal dengan naskah-naskah kuno. Masyarakat pada zaman dahulu mempunyai banyak sekali kitab atau naskah yang berisi tentang berbagai macam disiplin keilmuan.  Baik itu ilmu filsafat, ilmu adat istiadat, maupun ilmu yang digunakan sebagai pengobatan tradisional atau juga sebuah naskah yang berisi tentang ramalan. Semua itu disusun dengan unsur kesengajaan oleh orang tua pada zaman dulu. 



Bape Dika Pemilik Naskah Kuno, Takepan Indarun

            Disini saya akan lebih terfokus untuk membahas tentang naskah kuno, apa sih itu naskah kuno? Naskah kuno merupakan tulisan dalam bentuk aksara lama atau jejawan dan dapat pula disebut dengan tulisan kawi. Naskah kuno juga merupakan kebudayaan lama yang perlu dikaji dan dilestarikan keberadaannya, terutama yang masih memiliki relevansi dengan perkembangan zaman yang lebih modern. Dengan dilestarikannya naskah naskah kuno dapat memberikan daya tangkal terhadap masuknya budaya asing di masyarakat. Sesuai dengan apa yang saya ketahui dan informasi yang saya dapatkan dari seorang pria yang lebih akrab dikenal atau dipanggil Bape Dika (Bapak Sudiarmi) yang tidak lain adalah ayah saya sendiri Herdi Purwangsa S. Yang menetap di sebuah perkampungan di desa Gapura dusun Tolot-Tolot yang merupakan pemekaran dari desa Kawo pada saat itu.  

  Dalam suku sasak kebanyakan penyebutan panggilan diambil dari anak pertama dari bapak tersebut. Bape dalam suku sasak merupakan tingkatan atau golongan dari keturunan. Pada malam itu bertepatan dengan hari sabtu,  19 oktober 2019 pukul 19.30 saya bertanya seputar naskah kuno kepada beliau, dimana pada saat itu saya sedang berada di rumah saya yaitu Dusun Tolot-tolot Desa Gapura Kecamatan Pujut Lombok Tengah. Beliau menceritakan bahwa naskah kuno tersebut ditulis diatas daun lontar menggunakan Swale dalam bahasa sasak disebut “Maje” (bagian  ujung  Maje) . adapun beberapa alasan mengapa naskah tersebut ditulis diatas daun lontar menggunakan swale ialah apabila ditulis menggunakan sebuah kertas akan mudah luntur dan  sobek dimakan zaman di tambah pula pada zamannya kertas tidak ada serta tulisannya akan awat dan tahan lama.

      Berdasarkan  informasi dari beliau bahwa naskah yang ditulis menggunakan daun lontar tersebut ada beberapa macam yang say ketahui seperti, markum, indarjaye, indarun (seperti gambar diatas) dan  lain-lain. Markum dan indarjaye merupakan tulisan jejawan yang biasanya dibacakan pada acara adat karena mengandung ajaran agama yang berisikan akidah maupun  tauhid kehidupan, adat istiadat serta cerita “rengganis” dengan mengetahui nilai yang terkandung dalam naskah tersebut dapat menjalin hubungan baik antar suku bangsa, agama, ras dan adat istiadat yang berbeda di indonesia, sehingga kita bisa menghilangkan sifat etnosentris dan menghindari prasangka sosial yang buruk. Sedangkan Indarun merupakan sebuah “Takepan” orang sasak terdahulu, takepan dalam bahasa sasak berarti “Pengambuk”. Istilah ini merupakan sebuah kebiasaan orang dulu untuk menaruh atau menyimpan barangnya dalam lipatan sarung yang dikenakan atau kain-kain yang dikenakan. takepan digunakan orang sasak terdahu ketika hendak berperang karena menurut kepercayaan orang sasak bahwa indarun berisikan ilmu sasak yang dipercayai kebenarannya dan memberikan keajaiban kepada penggunanya seperti, halnya ilmu kekebalan ( dalam kepercayaan sasak disebut "panseh" atau dalam bahasa indonesia badan menjadi keras sehingga besi maupun baja tidak dapat melukai badan penggunanya), macam-macam halnya ilmu "senjerit" seperti senjerit macan, mayit, gumi dan lainnya, serta ilmu "pengasek-asek" yang membuat seseorang penggunanya disenangi, dikasihi, disukai banyak orang dan ilmu lainnya. Namun tidak sembarang orang bisa memiliki dan menggunakannya karena hal seperti ini masih sangat langka keberadaannya.  

        Dalam cerita tersebut, naskah itu dibuat oleh seorang tokoh sasak yang biasa dikenal dengan “Baloq Tui” . namun menurut cerita, Baloq Tui meberikan naskah tersebut kepada Baloq Bereng (Eman) yang tidak lain adalah nenek moyang keluargaku, karena sepengetahuanku Baloq Tui dan Baloq Bereng bersahabat sebagai pengembala sapi.
          Dari cerita itulah saya mengetahui asal usul naskah kuno tersebut. Apabila tulisan ini ada yang salah, baik kalimat maupun ceritanya mohon untuk diluruskan supaya tidak ada pihak yang tersinggung. Sekian dan terimakasih. 

Assalamualikum warahmatullahi wabarokatuh.
Salam Budaya😉

Takepan Indarun dalam Kebudayaan Suku Sasak

Penulis : Herdi Purwangsa S Rumah suku sasak         I ndonesia merupakan salah satu negara dikawasan asia tenggara yang sangat ...